Tidak Matang Memahami Kondisi Sosial dan Pendidikan, Berikut Hipotesa Kader Muhammadiyah NTT
Cari Berita

Advertisement

Tidak Matang Memahami Kondisi Sosial dan Pendidikan, Berikut Hipotesa Kader Muhammadiyah NTT

Tuesday, June 16, 2020


INDIKATORNTT.COM Abdullah S. Toda (Anggota Majelis Pendidikan & Kader PW Muhammadiyah NTTFoto : Istimewa




INDIKATORNTT.COM - COVID-19 - NTT Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana dengan mekanisme yang baik agar dapat mencapai tujuan pendidikan yakni mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat UUD 1945
Pendidikan di masa pandemi memang sulit untuk dilaksanakan secara normal, semua itu bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran wabah covid-19. Namun perlu diperhatikan bahwa pemberlakuan new normal ini perlu ditentukan mekanisme baru yang tepat dan cerdas pada aspek pendidikan agar tetap berjalan baik itu secara daring maupun secara normal. Karena data per-9 Juni 2020 tidak ada penambahan kasus positif covid-19 di NTT.

Tak lama ini, pada publik disuguhkan melalui berbagai media bahwa DPRD NTT melalui Komisi V tidak menginginkan pemberlakuan new normal pada aspek pendidikan  dan meminta PEMDA agar tidak mengusulkan new normal pada aspek pendidikan sedangkan pasar dan lainnya beraktivitas seperti biasa.

Hal ini bagi saya DPRD NTT tidak matang dalam memahami kondisi sosial dan pendidikan di NTT.

Seharusnya DPRD NTT mempunyai data Kab/Kota yang masuk dalam kategori zona merah dan zona hijau dan oleh  DPRD Kab/Kota pun demikian. Agar dapat menentukan kebijakan sebaik mungkin sehingga setiap  keputusan dapat dilaksanakan  pada  pemerintah selevel dibawahnya.

Menurut hemat saya, jika DPRD NTT mempunyai data demikian maka proses pendidikan dapat berjalan dengan baik. Jika wilayah tertentu termasuk zona merah maka masih menggunakan pola pendidikan secara virtual (daring), sedangkan bagi wilayah zona hijau dapat diberlakukannya pendidikan seperti biasa (normal) namun tetap memperhatikan protokoler kesehatan di sekolah tersebut. Karena kondisi di NTT tidak semua orang dan wilayahnya memiliki alat pendukung pendidikan secara daring baik itu jaringan internet, android dan pendapatan per-hari yang tak menentu sedangkan pembayaran sekolah/regis kuliah pun tetap berjalan. Sehingga sangat memungkinkan bagi sekolah di pelosok-pelosok desa yang masih sangat merasakan kondisi yang aman dari pandemi ini tetap menjalakan aktivitas pendidikan sebagaimana mestinya. Karena tidak sedikit sekolah di NTT selama pandemi yang tidak dapat melaksanakan aktivitas sekolah walaupun di rumah karena kendala demikian. Sedangkan untuk proses perkuliahan di Perguruan Tinggi dapat diatur ruang kuliahnya sesuai dengan protokoler kesehatan.

Jika hal ini tidak dipikirkan maka dapat dipastikan  terjadinya in-efisiensi dalam mencerdaskan generasi Bangsa di tengah pandemi.

indikatorntt.com