Sosok Riwu Ga, Haruskan Dilupakan ?
Cari Berita

Advertisement

Sosok Riwu Ga, Haruskan Dilupakan ?

Tuesday, January 8, 2019

Foto Riwu Ga dan Putra

Indikatorntt.com - Sekilas menatap jejak langkah kaki bangsa ini. Sampailah kita pada sebuah ruang perenungan akan langkah bangsa yang awalnya terkekang dalam rantai penjajahan hingga banyak sekali para pejuang dan para kontributor baik tenaga waktu maupun materi mempertaruhkan semua yang mereka miliki untuk bangsa ini.

Adalah Riwu Ga seorang pemuda NTT yang menjadi seorang pengikut setia Bung Karno.

Suatu siang saat Bung Karno sedang mengerjakan potongan kayu untuk ganjel pintu, Riwu Ga datang membawa pisang dan bertanya-tanya pada Sukarno tentang caranya membuat potongan kayu.

Sukarno adalah seorang Insinyur, tapi ia selalu bicara dengan bahasa yang dimengerti oleh lawan bicaranya, dan Sukarno senang dengan anak ini yang selalu banyak ingin tau. Saat itu jam 10 pagi, Sukarno dan Riwu bicara sampai sore hari. Akhirnya Sukarno meminta Riwu membantu di rumahnya, banyak juga pemuda Flores membantu di rumah Sukarno.


Riwu ikut maen Tonil dan membenahi baju-baju pemain Tonil sambil belajar lagu Indonesia Raya dengan caranya yang gembira. Tonil adalah suatu seni mirip sandiwara yang dipentaskan setiap sebulan sekali oleh Sukarno.


Riwu juga sangat senang dan melompat-lompat sambil tertawa ketika Bung Karno melawak dan menceritakan hal-hal yang seru. Begitu akrab dan asyiknya Bung Karno, Riwu dan para pemuda Flores dikala itu, seakan beban yang sangat berat yang dipikul dipundaknya, seketika hilang, beralih suka cita dan riang gembira.


Rencana Sukarno Akan “Dibuang” oleh Belanda ke Australia
Tahun 1942 Jepang datang ke Indonesia, dan Bung Karno telah direncanakan akan dibawa ke Australia oleh Belanda dengan alasan untuk menyelamatkan jiwa Sukarno.


Pesawat yang akan mengangkut Bung Karno pun telah disiapkan. Tapi saat di pinggir pesawat Riwu minta ikut, Bung Karno memaksa Belanda agar Riwu ikut ke Australia, tapi Belanda menolak.


Bung Karno juga menolak bila Riwu tidak diajak, jadilah Bung Karno tidak diajak ke Australia. Sejarah Indonesia akan berubah total andai Riwu tidak memaksa dirinya ikut….


Sukarno “Dibuang” ke Bengkulu

Saat Sukarno dibuang ke Bengkulu dan berjalan kaki di tengah hutan lebat, Inggit, Sukarno dan Riwu menuju Kota Padang. Di Padang mereka tinggal di kota itu beberapa bulan sebelum akhirnya Sukarno tiba kembali di Djakarta bersama Riwu yang setia mengikutinya.

Riwu adalah pembantu kesayangan Sukarno dan Ibu Inggit. Saat teks Proklamasi 1945 dibacakan dan Fatmawati isteri baru Sukarno berada di samping Bung Karno ketika akan membacakan Proklamasi, mata Riwu berkaca-kaca dalam hatinya berteriak :

“Mustinya Ibu Inggit yang disana, mustinya Ibu Inggit yang berdiri di bawah kibaran merah putih, karena Inggitlah yang tau susah dan jerih payah Sukarno,” bisik Riwu dalam hatinya.

Beberapa jam setelah Proklamasi, Sukarno memanggil Riwu dan menyuruh untuk mengabarkan seantero Djakarta sudah merdeka. Riwu mencari mobil Jeep dan diajaknya seorang bernama Sarwoko yang menyetir.

Di tengah jalan Riwu berteriak “Merdeka…Merdeka…Merdeka!!!!!!!” sambil mengepalkan tangan keras-keras.

Sepanjang perjalanan, orang-orang bingung sekaligus heran melihat kelakuan Riwu. Namun akhirnya paham, masyarakat akhirnya tahu kalau Sukarno sudah memerdekakan Republik ini.

Siapa diantara anda yang mengenal Riwu? Di hari tuanya, ia kembali ke desanya, hanya memacul tanah tandus di Flores.

Riwu tak seperti pejabat yang dengan mobil mewah ke Istana berikut dengan jas berharga puluhan juta Rupiah, menghormat pada bendera Indonesia Raya.

Ia hanya orang tua yang rapuh dan ia tidak pernah diundang ke Istana saeumur hidupnya, karena mungkin saja bau dekil dan baju kotor tak pantas bagi Istana yang megah. Tapi tanpa Riwu, bisa jadi kita tak mengenal Indonesia seperti apa yang kita kenal sekarang.

Riwu Ga, pria asal Sabu, Nusa Tenggara Timur ini, namanya seperti dipeti-eskan bila kita membicarakan proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.

Namanya benar-benar dilupakan dan dikuburkan dalam-dalam. Dia memang tidak berperang secara fisik mempertahankan negara. Juga dia tidak melakukan diplomasi di luar negeri membela keberadaan negaranya dengan argumentasi tajam.

Riwu Ga juga bukan seorang menteri atau pejabat yang punya kekuasaan yuridiksi untuk berbicara dan melakukan tugasnya sebagai seorang orang penting yang sedang mempertahankan kemerdekaan negaranya.

Jauh sebelum negaranya lahir tanggal 17 Agustus 1945, Riwu Ga seperti sudah ditakdirkan untuk selalu berperan dan berhubungan dengan hari yang tidak pernah akan dilupakan oleh setiap orang Indonesia itu.

Bila Ibu Inggit Garnasih, istri Soekarno, dijuluki banyak orang sebagai sosok wanita yang mengantarkan Soekarno ke gerbang kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka Riwu Ga-lah orang yang menjaga kunci gerbang itu agar tidak hilang, sehingga bisa dibuka oleh Soekarno bersama patriot-patriot sejati lainnya.

Diperebutkan oleh Inggit dan Sukarno

Pada usia 18 tahun di tahun 1934 Riwu Ga berkenalan pertama kali oleh Soekarno di Ende, Flores, semasa menjalani pengasingannya oleh pemerintah kolonial Belanda. Sikapnya yang rendah hati dan penuh kepatuhan pada peraturan dan etika, membuat dia dipercaya Soekarno dan disayang oleh keluarga besar proklamator itu, baik oleh pihak Ibu Inggit maupun oleh Ibu Fatmawati.

Sebelum Soekarno shalat shubuh selama di Ende, Riwu Ga bangun lebih dulu dan mempersiapkan segelas air putih dicampur kapur. “Biar suara Bung Karno lebih menggelegar”, katanya.

Ketika Soekarno dipindahkan ke Bengkulu, dia diikutsertakan bahkan sampai berakhir masa pembuangan dan Indonesia merdeka, Riwu Ga tetap mengabdi kepada keluarga Soekarno.

Dia juga dijadikan harta yang diperebutkan oleh Inggit dan Soekarno ketika pasangan itu bercerai. Riwu Ga berat hati memilih ikut Soekarno, meski Inggit tetap menyayanginya.

Setelah turut mempersiapkan upacara pembacaan proklamasi, Riwu Ga diperintahkan Soekarno untuk menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan itu ke sekeliling Jakarta. Banyak rakyat Indonesia tidak tahu bahwa negera mereka sudah merdeka, karena kemerdekaan itu ditentang banyak pihak termasuk penguasa Jepang pada kala itu.

Riwu Ga termasuk orang pertama yang mengetahui Indonesia telah merdeka

Seperti diceritakan sebelumnya, bersama adik Mr. Sartono (kelak menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung pertama), yang bernama Sarwoko yang mengemudikan mobil jeep, Riwu Ga berteriak-teriak heroik mengumumkan kepada kumpulan rakyat sambil membawa bendera berah putih.

“Kita sudah merdeka, kita sudah merdeka!” Tindakannya sangat konyol dilakukan saat itu, karena bisa saja aparat keamanan tentara Jepang menembaknya sesuka hati.

Hasil tugas Riwu Ga itu membuat banyak rakyat Jakarta percaya bahwa Indonesia sudah merdeka. Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia, mirip berita pendaratan Christopher Columbus ke Dunia Baru, yang baru diketahui oleh rakyat Eropa berbulan-bulan kemudian.

Memang ada yang mewartakan berita kemerdekaan RI secepat mungkin melalui medium elektronik berupa radio. Namun barang kotak bersuara itu sangat langka dimiliki oleh kebanyakan orang pada masa itu, dan kalaupun ada, isi beritanya sudah dikontrol penuh oleh penguasa Jepang.

Jusuf Ronodipuro juga menyiarkan berita kemerdekaan RI secara heroik melalui stasiun radio yang dikuasai Jepang. Juga di daerah-daerah pelosok, berita proklamasi disiarkan ulang, seperti di Sumatera oleh Mohammad Sjafe’i atau di Riau oleh Angkatan Muda Perusahaan Telefon dan Telegraf beberapa minggu setelah 17 Agustus 1945.

Riwu Ga (bersama Sarwoko) adalah orang yang pertama kali menyiarkan berita proklamasi kemerdekaan secara langsung kepada rakyat Indonesia. Selama tahun 1945 tidak ada berita apapun di surat kabar manapun tentang proklamasi kemerdekaan. Keadaan ini memang aneh tetapi bisa dimengerti mengingat keadaan masa itu yang kritis.

Riwu Ga memang tinggal kenangan. Dia sepenggal sejarah yang kini terhempas jauh dari hiruk pikuk kemerdekaan. Menjadi yang tak diperhitungkan bangsa, konsekuensi dari seorang Riwu Ga. Keringat dan darahnya melayani bangsa terhapus carut marut birokrasi

sebagai satu dari delapan anak Riwu Ga, mereka sering diceritakan oleh ayahnya tentang kisah perjuangannya bersama Bung Karno baik itu di Ende lokasi pengasingan Soekarno maupun di Jakarta.

“Kami dengar banyak cerita. Mulai dari masa pembuangan, hingga kemerdekaan. Kami sangat bangga pada ayah kami. Malah, ketika hendak dibuang ke Australia, Bung Karno tidak mau jalan kalau Riwu Ga tidak dibawa.”

Sayang, di masa tuanya, garis tangan majikan dan pembantu itu berbeda. Sukarno menjadi presiden, dan Riwu Ga justru menjadi seorang penjaga malam pada kantor Dinas PU Kabupaten Ende hingga pensiun pada tahun 1974.

“Tapi kami bangga pada bapa,” ungkap Yance. Di usia senjanya, Riwu memang menghilang dari panggung gemerlap kemerdekaan. Dia menyingkir jauh, hingga ke Naikoten, Kota Kupang, kemudian ke Nunkurus di Kabupaten Kupang tahun 1992.

Di Kupang, Riwu hanya beberapa tahun, kemudian bersama isterinya Belandina Riwu Ga-Kana pun meniti hidup sebagai petani di Nunkurus, tepat di sebuah area pertanian yang dipadati gewang dan jati, di depan markas TNI Naibonat.

“Di sana bapa dan mama menetap selama beberapa waktu, hingga bapa sakit dan dirawat di RSU Kupang selama hampir dua minggu. Dia dirawat di ruang kelas tiga. Sakitnya sakit orang tua, bapa mengeluh ada sakit di bagian perut,” ungkap Yance polos.

Takdir berkata lain. Tepat pukul 17.00 Wita, di hari kemerdekaan RI, 17 Agustus 1996, ketika masyarakat Indonesia sedang menyanyikan lagu Indonesia Raya, dalam prosesi penurunan bendera, Riwu Ga meninggal dunia.

Takdir berkata, bahwa Riwu memang harus menutup matanya ketika Merah Putih benar-benar sudah diturunkan oleh pasukan pengibar, untuk disimpan. Jenazahnya lalu dimakamkan di TPU Kapadala, Kelurahan Airnona, Kecamatan Kota Raja, Kupang pada 19 Agustus.


Editor: Jab
Source : Berbagai sumber